728x90 AdSpace

Latest News

Friday, August 22, 2014

Racun Mengganggu Sistem Kekebalan

Harga bahan bakar minyak (BBM) yang membumbung tinggi juga mengimbas pada mahalnya biaya pengobatan medis. Pengobatan alternatif dengan harga terjangkau menjadi pilihan bagi masyarakat.

Agaknya, fenomena itu yang mendorong berkembangnya terapi oksidan yang merupakan pengembangan dari terapi bekam. Sistem pengobatan yang memanfaatkan teknologi pengambil timbunan racun-racun (oksidan) dalam tubuh manusia mulai digemari banyak orang.

Zat-zat beracun yang dikeluarkan seperti zat pengawet, zat pewarna, pestisida, logam, polusi udara, asap rokok, kendaraan bermotor, pabrik, polusi tanah dan air.

Candra P. Pusponegoro, Teraphyst Master Oksidan, mengklaim terapi tersebut tidak memiliki efek samping. Bahkan dia bisa membuktikannya melalui pengecekkan di laboratorium.

“Terapi ini adalah pengembangan dari terapi bekam,” ujar Candra saat melakukan kunjungan ke Redaksi Harian Jogja beberapa waktu lalu.

Menurutnya, racun-racun di dalam tubuh harus dikeluarkan karena dapat mengganggu sistem kekebalan. Beberapa penyakit yang dapat dipicu dari zat-zat racun itu antara lain, kulit muka kusam, energi menurun, diabetes, tekanan darah tinggi, penuaan dini, sembelit, tumor, infeksi.

Tak hanya mumpuni mengeluarkan zat-zat racun dalam tubuh, sistem pengobatan itu juga mampu mengobati berbagai gangguan seperti depresi, pencernaan, kecanduan alkohol dan narkoba. Candra sedikit berbagi cerita tentang tata cara pengambilan racun-racun.

Dengan menggunakan pisau bedah, permukaan kulit digores sedalam 0,09 mm sepanjang 4 mm. Toksin dan oksidan kemudian dikeluarkan melalui kaca penghisap. Oksidan yang keluar tidak beraroma dan berwarna gelap. Saat penghisapan melalui alat, harus hati-hati karena sangat riskan.

“Kami ingin mengubah persepsi masyarakat yang salah kaprah menilai pengobatan ini. Jika menggunakan jarum dan silet memang berbahaya, makanya pengobatan ini membutuhkan keahlian khusus. Harus sabar dan teliti,” tuturnya.

Teknik pengobatan biasanya disesuaikan dengan keluhan pasien. Awalnya, pasien yang memiliki catatan medis cukup berat harus dicek terlebih dahulu. Mulai dari tekanan darah hingga menunjukkan catatan laboratorium jika ada.

Saat terapi dimulai, pasien bisa duduk atau berbaring. Alat-alat yang digunakan harus steril. Alat-alat tersebut di antaranya alat penghisap dari kaca, pisau bedah steril, kasa steril, alkohol 70 persen, antiseptik, kaos tangan, masker penutup wajah dan penjepit kasa.

Butuh waktu sekitar 20 menit menjalani pengobatan ini. Pasien pun harus steril dari bakteri maupun virus dengan dibersihkan dahulu melalui alkohol. Candra mengatakan pengobatan itu sudah dikenal masyarakat sejak abad ke-18 di Eropa.

Awalnya, orang-orang Eropa menggunakan lintah untuk menghisap timbunan darah dalam tubuh. Teknik pengobatan akhirnya berkembang pesat hingga ke Timur Tengah seperti Mesir, Babylonia, dan Persia.

Bersama tiga rekannnya, dia menangani setiap pasien yang datang atau harus ditangani langsung dengan mendatangi rumah pasien. Setiap tahun, mereka bisa melayani hingga ribuan pasien. Candra sudah keliling ke beberapa daerah seperti Depok, Pekanbaru, Batam, Jakarta, Makassar, dan beberapa waktu lalu berada di Jogjakarta.

Dia mengaku sering diajak beberapa rumah sakit di Jakarta, Pekanbaru, dan Batam untuk memberikan motivasi kepada pasien melalui teknik ruqyah.

“Namun, pengobatan ini tak melulu hanya untuk orang muslim saja. Setiap orang bisa memanfaatkan terapi oksidan agar kondisi tubuh terjaga,” tegas Candra. (Harian Jogja/Shinta Maharani)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Racun Mengganggu Sistem Kekebalan Description: Rating: 5 Reviewed By: Terapi Oksidan
Scroll to Top